I.
PENDAHULUAN
Dalam rangka
meningkatkan produksi tanaman per satuan luas per satuan waktu telah banyak
upaya yang dilakukan masyarakat baik melalui intensifikasi, ektensifikasi
maupun diversifikasi, dengan tujuan utama adalah untuk mencukupi kebutuhan
pangan masyarakat yang semakin bertambah besar dan beragam sejalan dengan laju
pertambahan jumlah penduduk yang cepat.
Kesenjangan yang terjadi antara pertambahan produksi yang rendah dan
pertumbuhan penduduk yang relatif cepat mendorong upaya peningkatan produksi
tanaman melalui pengelolaan tanaman yang tepat pada sebidang lahan melalui
penerapan Multiple Cropping dengan input teknologi dan penggunaan sarana
produksi yang memadai dengan hasil tanaman yang tinggi dan berkelanjutan.
Pengelolaan tanaman dalam pola
Multiple Cropping ini telah lama
dipraktekkan petani di daerah tropis sejak ribuan tahun silam dengan input
produksi yang sederhana dalam berbagai bentuk atau pola dengan jenis tanaman,
produksi dan tingkat teknologi yang sangat beragam. Semula ditujukan hanya untuk mencukupi
kebutuhan keluarga, namun akhir-akhir ini penerapan Multiple Cropping tidak
hanya ditujukan untuk keperluan rumah tangga saja dalam waktu terbatas, tapi
pada petani di negara maju telah dikembangkan dengan mengaplikasikan berbagai
jenis tanaman yang mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan yang bervariasi
untuk mencukupi kebutuhan pasar dengan teknologi ramah lingkungan.
Penerapan teknologi dalam
Multiple Cropping untuk mencukupi kebutuhan pangan di daerah tropis belum
terwujud dan masih memerlukan kajian strategis dalam pencapaiannya, tapi petani
di negara-negara maju, praktek Multiple Cropping dilakukan secara cermat dengan
harapan produksi yang diperoleh secara kuantitas dan kualitas dapat
dipertanggungjawabkan. Beberapa studi
kasus adanya praktek Multiple Cropping daerah tropis yang cukup berhasil
memberikan pengharapan hidup yang memadai secara berkelanjutan, seperti pada
masyarakat tani di Thailand, Filipina dan Indonesia. Penerapan agrosilvopastural di Thailand yang
menunjukkan hasil yang baik pada berbagai wilayah pegunungan di Chiang Mai, Chiang
Rai, Chiang Dong, dan Propinsi Lampang. Tanaman
jagung di antara pohon Eucalyptus, Tanaman kopi di antara pohon Eucalyptus,
tanaman sayuran di antara pohon lichi dan tanaman mangga. Penanaman tanaman sela tersebut hanya efektif
pada saat pohon belum tertutup kanopinya.
Pemandangan di atas banyak ditemukan pada pola pertanaman di Chiang Mai,
Thailand. Sementara di Indonesia, penerapan Multiple Cropping juga cukup prospektif
dengan pola yang beragam seperti yang dilakukan petani di Pulau Jawa, Bali,
Sumatra dan Sulawesi Selatan. Melalui
input teknologi sederhana, peningkatan produksi tanaman disertai jaminan mutu
yang terjaga dalam pola pertanaman ganda merupakan harapan petani masa depan
yang menjanjikan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
1.1
Multiple Cropping sebagai Upaya Peningkatan Produksi
Disadari penuh bahwa peningkatan
produksi dapat diupayakan melalui usaha intensifikasi dan ekstensifikasi guna
memenuhi kebutuhan pangan, bahan baku industri dan kebutuhan lainnya. Kedua
usaha dimaksud telah lama digalakkan, namun peningkatan produksi belum dapat
dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat akibat pertambahan penduduk yang
tidak seimbang dengan kenaikan produksi pertanian. Di lain pihak luas lahan
garapan juga semakin terbatas, sehingga lahirlah petani kecil yang berlahan
sempit dengan lokasi garapan yang terpencar mengakibatkan aplikasi teknologi
terbatas.
Petani berlahan sempit
merasakan pentingnya penggunaan waktu dalam berusahatani. Pada dekade silam produksi
pertanian secara umum telah mengalami peningkatan dengan (i) penanaman pada
lahan yang luas, tetapi sekarang scope-nya
semakin terbatas dengan permasalahan yang makin kompleks terutama berkaitan
dengan adanya kepemilikan lahan yang semakin sempit. Oleh karena itu sekarang
ini sangat ditekankan pada (ii) peningkatan produksi per satuan luas. Hal ini
sudah dikembangkan dengan baik khususnya daerah-daerah beriklim sedang. Dan
pada negara-negara yang sedang berkembang di daerah tropik menekankan pada
(iii) penanaman banyak tanaman setiap tahun atau menerapkan sistem multiple cropping. Secara teori,
kemungkinan produksi tinggi dapat dicapai dengan menerapkan tiga pendekatan
tersebut yaitu secara terus menerus menanam tanaman yang berproduksi tinggi
pada lahan yang tersedia terutama adanya fenomena makin sempitnya pemilikan
lahan oleh petani. Karena itu petani berupaya bagaimana caranya mengusahakan
lahannya yang sempit seefisien mungkin dengan berbagai jenis tanaman dalam pola
yang tepat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dengan demikian usaha
peningkatan produksi pertanian per satuan luas dan waktu perlu mendapat
perhatian. Upaya peningkatan produksi
dan mutu tanaman dalam areal yang
terbatas pada waktu tertentu dapat dilakukan melalui penerapan ”Multiple
Cropping”.
1.2. Pengertian Multiple cropping
Batasan sederhana dari Multiple Cropping
dapat dilihat dari dua suku kata yang menyusunnya, yakni ”multiple” artinya
”ganda” dan ”cropping” artinya ”pertanaman”, maka arti Multiple Cropping dari
asal katanya adalah ”pertanaman ganda”. Namun demikian secara sederhana Multiple cropping pengertiannya
disamakan dengan tanaman ganda atau tumpang gilir adalah pengusahaan berbagai
jenis tanaman pada sebidang lahan yang sama dalam jangka waktu satu tahun.
Sedang menurut Neal C. Stoskopt (1981) mengartikan multiple cropping adalah
pertumbuhan dua jenis tanaman atau lebih pada sebidang lahan yang sama dalam
waktu satu tahun. Dengan demikian memberikan gambaran yang komprehensif bahwa
dalam multiple cropping dapat
dilakukan pemungutan hasil atau panen lebih dari satu kali dalam jangka waktu
selama satu tahun.
Praktek pengusahaan tanaman dalam multiple cropping meliputi semua jenis
tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat seperti tanaman semusim,
tanaman tahunan, ternak, atau ikan yang dipelihara di sawah melalui pola
penanaman yang tepat dan sesuai.
Sistem tersebut sudah tidak asing lagi
bagi kita karena sudah lama dikenal oleh petani secara tradisional di Indonesia.
Pada lahan kering, tegalan, dan pekarangan diusahakan pertumbuhan tanaman dan
pola tanam yang sesuai pada suatu lahan merupakan interaksi antara tanah,
iklim, tanaman dan pengelolaannya. Setiap jenis tanaman akan tumbuh dengan baik
apabila kebutuhan minimal terhadap faktor-faktor yang diperlukan terpenuhi.
Sedangkan hasil yang diperoleh akan menguntungkan bilamana susunan
faktor-faktor yang diperlukan tersedia secara optimal.
Berbagai terobosan dalam teknologi
pertanian telah ditemukan oleh ahli agronomi dan telah dilakukan oleh petani
untuk melipatgandakan hasil pertanian tanpa merusak kesuburan tanah,
kelestarian air, serta dengan biaya produksi yang sangat rendah. Salah satu di
antaranya adalah pemanfaatan lahan dengan berbagai jenis tanaman per satuan
luas dalam jangka waktu tertentu. Sistem ini dikenal multiple cropping sebagai dimensi ketiga dalam upaya peningkatan
produksi pertanian. Aneka macam tanaman pangan, dan tanaman perkebunan yang
diusahakan oleh petani seperti kelapa, cengkeh, jambu mete dan sebagainya.
Pada lahan sawah yang beririgasi dalam
musim hujan di samping ditanami padi, juga petani sempat menanam palawija
seperti jagung, kacang panjang dan sebagainya. Di atas pematang atau gelengan
sawah tersebut. Apalagi sawah sistem sorjan dimana lahan pertanian dapat dibagi
dua secara berselingan yaitu lahan kering (guludan) dan lahan basah (tabukan).
Daerah persawahan yang memperoleh air
pengairan sepanjang tahun dimungkinkan untuk menanam padi secara terus menerus,
kecuali ada masalah lain. Biasanya pada daerah irigasi ini lahan yang dimiliki petani
lebih sempit bila dibandingkan dengan lahan tanpa irigasi. Berdasarkan
kenyataan ini masih banyak petani yang mengusahakan padi sawah satu kali dalam
setahun dengan lahan yang begitu sempit sehingga hasilnya tidak cukup untuk
kebutuhan keluarganya. Mereka membiarkan tanahnya kosong setelah panen padi
walaupun masih ada kemungkinan untuk mengusahakan satu kali pertanaman lagi,
terutama jenis-jenis tanaman yang berumur pendek.
Petani dengan tanah garapan yang terbatas
mengusahakannya secara efisien mungkin untuk mencukupi keperluan hidup
keluarganya sehari-hari. Dengan demikian usaha mempertinggi produksi pertanian
persatuan luas sambil menjaga kesuburan tanah dan kelestarian air, tentu akan
menjadi sangat penting dan besar artinya bagi kesejahteraan petani. Telah
diketahui bahwa peningkatan produktivitas satuan luas lahan dapat dilakukan
dengan perbaikann kinetika tanaman, peningkatan pemakaian pupuk, teknik
pengendalian hama penyakit yang baik, pengelolaan dan pengolahan tanah yang
baik serta pengelolaan dan pemanfaatan air irigasi (Richard et al, 1984).
Dalam usaha meningkatkan produksi
pertanian per satuan luas persatuan waktu maka daya guna tanah, air, sinar
matahari dan waktu perlu ditingkatkan. Melalui upaya ini kita dapat
memperpendek saat kosong (bera) sebidang lahan. Dengan kata lain mengusahakan
sejauh mungkin adanya pertanaman pada sebidang lahan sepanjang tahun. Upaya
seperti tersebut sebenarnya telah dilakukan oleh petani yang memiliki tanah
garapan sempit meskipun belum diusahakan secara intensif.
1.3.
Manfaat penerapan sistem multiple
cropping
Dalam melaksanakan sistem multiple cropping akan diperoleh manfaat
sebagai berikut:
1. Mencegah tibanya masa paceklik karena
volume dan frekuensi panen bertambah.
2. Mengurangi pengangguran musiman. Dalam hal
ini tenaga kerja dapat diatur dengan baik sehingga dapat mencegah pengangguran
sepanjang tahun.
3. Memperbaiki taraf hidup petani karena
dengan sistem multiple cropping
pendapatan petani meningkat, mengurangi resiko kegagalan panen dan memperbaiki
keanekaragaman pangan serta nilai gizi makanan masyarakat.
4. Bila dilakukan secara intensif dan
sistematis akan dapat menekan biaya produksi dan dapat mempertahankan
produktifitas tanah yang cukup tinggi.
5. Dapat membantu mengendalikan hama dan
penyakit, tumbuhan penganggu atau mempertahankan stabilitas biologis.
6. Dengan penerapan multiple cropping baik dan tepat akan dapat memberikan solusi bagi
masalah kekurangan pangan umat manusia di daerah rawan dan juga efisien dalam
hal penggunaan sumber daya tanah, air, cahaya dan modal lebih ditingkatkan.
7. Pengendalian erosi dengan penutup tanah
karena permukan tanah dapat tertutup sepanjang tahun. Erosi dan pencucian unsur
hara juga dapat diminimalkan dengan menggilir tanaman legum dan non-legum.
8. Merupakan upaya mempertahankan kesuburan
tanah dengan penggunaan pupuk hijau terutama tanaman yang dapat mengfiksasi
nitrogen dari udara.
Salah satu contoh penerapan
sistem multiple cropping (menanam
kacang ijo sebelum padi) di Thailand (Pookpakdi, 1992) telah memberikan
keuntungan atau manfaat sebagai berikut:
a. Memberikan pendapatan ekstra petani lahan
kering hanya dalam jangka waktu pendek (lebih kurang 70 hari).
b. Populasi gulma di lahan petani berkurang,
sehingga memudahkan persiapan lahan untuk tanaman padi sebagai tanaman
berikutnya.
c. Unsur nitrogen dapat disuplai ke dalam
tanah akibat adanya fiksasi nitrogen oleh kacang hijau yang memberikan
keuntungan bagi tanaman padi.
d. Meningkatkan ektivitas di lahan pertanian
sehingga dapat membantu upaya pengurangan perpindahan penduduk ke daerah lain
termasuk ke kota.
1.4.
Perwujudan multiple cropping
Perwujudan dalam sistem multiple cropping antara lain sebagai
berikut:
- Tanam gilir adalah pengusahaan tanaman pada sebidang lahan dengan menanam tanaman jenis lain berikutnya setelah panen.
Contoh:
Setelah panen kapas diikuti dengan penanaman jagung atau kedelai dan
lain sebagainya.
- Tanam sisip adalah pengusahaan tanaman pada sebidang lahan dengan cara menanam benih atau bibit tanaman berikutnya pada saat menjelang panen. Tanaman sisip biasa pula disebut dengan Relay Planting.
Contoh:
Ubi jalar ditanam pada saat menjelang panen jagung.
- Tanaman sela adalah usaha pertanaman tanaman semusim di antara barisan tanaman utama (tanaman tahunan) selama tanaman utama belum menghasilkan. Tanaman sela biasa pula disebut Interculture.
Contoh:
Padi gogo di antara tanaman kelapa, jagung di antara tanaman cengkeh/
coklat dan sebagainya.
- Tanaman beruntun adalah pengusahaan satu jenis tanaman pada sebidang lahan yang ditanam segera setelah tanaman sebelumnya selesai dipanen. Tanaman beruntun sama dengan istilah Sequential Planting.
Contoh: Padi dengan kedelai di lahan sawah.
- Tumpang sari adalah pengusahaan lebih dari satu jenis tanaman pada sebidang lahan dengan jarak tanam yang teratur. Tumpang sari sama dengan istilah Inter Cropping
Contoh : padi gogo ditumpangsari dengan
jagung dan ubikayu.
- Tanam kepras adalah pengusahaan tanaman pada sebidang lahan dengan menanam melalui pemangkasan dan memelihara terus hasil pangkasan untuk menghasilkan panen baru. Tanam kepras sama dengan dengan istilah Ratoon.
Contoh : tebu dan padi
- Tanam campur adalah pengusahaan lebih dari satu jenis tanaman pada sebidang lahan tanpa jarak tanam yang teratur. Tanam campur sama dengan istilah Mixed Cropping.
- Sistem surjan adalah sistem pengelolaan sebidang lahan pertanian yang dibagi dua secara berselingan yaitu lahan kering (guludan) dan lahan basah (tabukan) kemudian ditanami dengan jenis tanaman yang cocok dengan kondisinya masing-masing.
Contoh: lahan basah ditanami dengan padi
dan lahan kering ditanami palawija.
Adapun tanaman yang menjadi
alternatif pilihan dalam sistem multiple
cropping harus memenuhi syarat-syarat antara lain :
- harus dapat menambah atau mempertahankan keseburan tanah.
- Komplementer dan suplementer satu dengan yang lainnya baik dalam hal unsur hara maupun sinar matahari.
- Nilai ekonomisnya tinggi, laku dipasaran serta mempunyai nilai kompetitif yang tinggi. Disamping itu juga jenis tanaman yang dibutuhkan masayarakat pada setiap saat.
- Dapat menggunakan tenaga kerja yang efisien.
- Diharapkan jenis tanaman yang tidak merugikan tanamanlebih baik ditinjau dari aspek morfologi maupun fisiologi.
Untuk lebih meyakinkan dalam upaya peningkatan
pendapatan oleh adanya penerapan sistem multiple
cropping dapat dilihat pada Tabel 1.
Sistem Pertanaman
|
Pendapatan Bersih ($U.S/ha)
|
Peningkatan pendapatan dari penanaman padi secara monokuler
($U.S/ha)
|
Peningkatan pendapatan
|
Padi monokultur
Kacang tanah-padi
Jagung manis-padi-k.ijo
Jagung pulut-padi-k.ijo
Ubi jalar-padi-k.tanah
|
325
631
1869
1487
1369
|
0
306
1544
1162
1044
|
0
94
475
357
321
|
Sumber :
Departemen of Agriculture Thailand
(1991)
1.5. Istilah dalam Pola Tanam
Tumpang Gilir
Dalam
sistim pertanaman ganda, pola tanam tumpang gilir telah berkembang maju
disbanding dengan pola lainnya. Beberapa
istilah lain yang berkaitan dengan Pola Tanam Tumpang gilir adalah sebagai
berikut:
1.
Tanaman Tumpang Gilir adalah suatu usaha
penanaman secara tumpang sari, bersisipan, ratoon, bergiliran dan lain-lain
yang mendatangkan panen – hasil lebih dari satu kali selama periode satu tahun
pada sebidang lahan.
Tanaman tumpang gilir
diterjemahkan menjadi : ”Multiple Cropping”
2.
Tanam Tumpang Sari adalah suatu usaha penanaman
pada sebidang lahan, dimana lebih dari satu jenis tanaman ditanam dan tumbuh
bersama dengan jarak tanam dan larikan yang teratur.
Tanam Tumpangsari diterjemahkan menjadi “Intercropping”.
3.
Tanam Bersisipan adalah suatu usaha penanaman
pada sebidang lahan, dimana terjadi penamanan benih atau bibit tanaman baru di
antara tanaman lama yang sudah berbunga-bunga atau setengah umur. Tanam
bersisipan = “Relay Cropping”.
4.
Tanam Bergiliran adalah suatu usaha penanaman
pada sebidang lahan, dimana penanaman tanaman baru berikutnya dilakukan setelah
tanaman lama sebelumnya telah selesai dipanen habis.
Tanaman bergiliran = “Sequential Planting”.
5.
Tanam Campur adalah suatu usaha penanaman pada
sebidang lahan, dimana lebih dari satu jenis tanaman dan tumbuh bersama tanpa
jarak tanam dan larikan yang diatur, tetapi bercampur secara acak. Tanaman
campuran “Mixed Cropping”.
6.
Tanam Sejenis adalah suatu usaha penanaman pada
sebidang lahan, dimana hanya satu jenis tanaman yang ditanam dan Dipelihara
sampai dipanen habis. Tanaman sejenis = “Monoculture”.
7.
Tanaman Sela adalah suatu usaha penanaman
tanaman semusim atau setahun di antara tanaman tahunan. Tanaman sela = ”Interculture”.
8.
Panen Tunggal adalah suatu usaha penanaman pada
sebidang lahan, dimana hanya terjadi hanya satu kali panen selama periode satu tahun.
(Ini tidak termasuk tumpang gilir). Panen tunggal diterjemahkan menjadi “Monocropping”.
9.
Panen Kembar = Panen Ganda adalah suatu usaha
pertanaman pada sebidang lahan, dimana terjadi dua kali panen habis selama
periode satu tahun yang berasal dari dua kali penanaman. Di sini terjadi satu
kali pergiliran tanaman sejenis.
Tanam kembar = “Double Cropping”.
10. Rotasi
Tanaman (Crop Rotation) adalah suatu pergiliran tanaman, hanya dalam
pergiliran tersebut terdapat lebih dari satu jenis tanaman.
11. Tumpangsari
Bersisipan (Relay Intercropping) adalah tumpang sari yang disusul menyusul
secara bersisipan.
12. Tumpangsari
Bergiliran (Sequantial Intercropping) adalah tumpang sari yang susul
menyusul secara bergiliran.
13. Tanam
Jejer Wayang = tanaman bersisipan (relay planting).
14. Tanam
Beruntun = tanam bergiliran hanya penanaman dilakukan langsung tanpa
pengolahan tanah lebih dahulu.
15. Tanam
Selambur = suatu usaha penanaman pada sebidang lahan, dimana berbagai
varietas dari satu jenis tanaman ditanam bersamaan secara tercampur.
16. Pemangkasan
= (ratoon) adalah suatu usaha pemangkasan tanaman bersamaan dengan panen habis
dengan maksud agar tumbuh tunas baru yang akan mendatangkan hasil lagi.
17. Sorjan
adalah suatu lahan yang dibentuk menjadi dua ketinggian permukaan, yaitu
permukaan atas dan permukaan bawah yang berdampingan dan berselingan pada
sebidang lahan.
18. Tanam
Berjalur (Strip Cropping) adalah suatu usaha penanaman pada sebidang lahan,
dimana masing-masing jenis tanaman ditanam secara berjalur dan berselingan,
satu lajur terdiri dari suatu jenis tanaman dalam beberapa baris.
19. Diversifikasi
Tanaman adalah suatu usaha penanaman berbagai jenis dan varietas tanaman
pada sebidang lahan dengan maksud memenuhi sebagian besar macam kebutuhan
penanam dan masyarakat.
20. Pola
Tanam (Cropping Pattern) suatu susunan dan atau urutan tanaman pada
sebidang lahan selama periode satu tahun termasuk pengolahan tanah dan bero
(kosong) di dalamnya. Pola tanam disebut juga pola pertanaman.
21. Sistem
Bertanam (Cropping System) adalah suatu usaha penanaman pada sebidang tanah
menurut pola tanaman yang sesuai dengan kemauan, kemampuan dan tujuan petani
penanam.
22. Pola
Usahatani (Farming Pattern) or Farm Layout adalah suatu susunan dan atau
urutan cabang-cabang usaha tani pada sebidang lahan atau areal usaha tani dalam
suatu pengelolaan.
23. Sistem
Usahatani (Farming System) adalah suatu usaha lebih dari satu cabang usaha
tani pada sebidang lahan atau areal usaha tani dalam satu pengelolaan, sesuai
dengan kemauan, kemampuan dan tujuan petani. Cropping system merupakan sub sistem
dari pada Farming System.
24. Ratio
Setara Tanah (RST) or Land Equivalent Ratio (LER) adalah jumlah luas lahan
yang dibutuhkan untuk penanaman monokultur setiap jenis tanaman untuk
menghasilkan produksi yang sama jumlahnya dengan hasil tumpang sari seluas 1
Ha.
25. Index
Tumpangsari (Multiple Cropping Index) adalah hasil dari perbandingan antara
jumlah luas masing-masing jenis tanaman dalam pola tanam selama setahun dengan
luas lahan yang tersedia untuk ditanami dikalikan 100.
26. Index
Intensitas Tumpangsari (Multiple Cropping Intensity Index) adalah hasil
dari perbandingan antara jumlah luas kali umur masing-masing jenis tanaman
dalam pola selama setahun kali 100 dengan luas lahan yang tersedia untuk
ditanami kali dua bulan.
27. Indeks
Pertanaman (Cropping Index) adalah hasil dari perbandingan antara jumlah
luas pertanaman dalam pola tanam selama setahun kali 100 dengan luas lahan yang
tersedia untuk ditanami.
28. Indeks
Intensitas Pertanaman (Cropping Intensity Index) adalah hasil perbandingan
antara jumlah luas pertanaman dalam pola tanam selama setahun kali 100 dengan
luas lahan yang tersedia untuk ditanami.
29. Ekologi
Lahan adalah pembagian lahan (“Land”) berdasarkan ekologi budidaya tanaman,
yaitu : lahan sawah berpengarian, lahan sawah tadah hujan, lahan kering, lahan
rawa termasuk lebak dan pasang surut.
30. Intensifikasi
suatu usaha peningkatan hasil produksi tanaman per hektar (ton/ha) dengan
peningkatan input dan teknologi tepat guna.
31. Ekstensifikasi
suatu usaha pengembangan atau perluasan areal tanaman untuk meningkatkan produksi
secara keseluruhan.
32. Tumpang
Gilir suatu usaha peningkatan hasil produksi tanaman per satuan luas per
satuan waktu (ton/ha/tahun) dengan peningkatan intensitas, produktivitas
termasuk intensifikasi, dan ekstensifikasi di dalamnya serta menjamin kelestarian
usahatani. Sehingga terjadi peningkatan efisiensi daya guna lahan sumber alam
teknologi dan kemampuan petani yang berkelangsungan terus menerus.
33. Denah
Tumpang Gilir adalah gambar tata letak tanaman dalam pola tanam tumpang
gilir pada sebidang lahan dilihat dari atas.
1.6. Perkembangan Multiple Cropping
Multiple Cropping merupakan salah satu
upaya nyata dilakukan manusia untuk memanfaatkan lahan secara efektif dan efisien
dengan menggunakan berbagai jenis tanaman pada musim tertentu. Praktek
penanaman tanaman secara Multiple Cropping telah lama dilakukan oleh
masyarakat, namun sampai saat ini belum dilakukan secara benar, sehingga masih
perlu pengembangan.
Pembangunan pertanian dalam arti luas
perlu terus dikembangkan dengan tujuan meningkatkan produksi dan memperluas
penganekaragaman hasil pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan dan industri
dalam negeri serta memperbesar ekspor, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup
petani, mendorong perluasan dan pemerataan kesempatan berusaha dan lapangan kerja
serta mendukung pembangunan daerah.
Dalam setiap pembicaraan tentang
pembangunan pertanian, sumberdaya alam dan lingkungan tidak boleh diabaikan.
Hal ini penting mengingat aktivitas pertanian adalah aktivitas yang
memanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungan seperti air, tanah dan organisme
yang telah diketahui manfaatnya, yang pada dasarnya memanfaatkan proses biologi
dengan ragam teknologi yang dikuasai masyarakat.
Sejak ratusan tahun silam, pertanian
merupakan suatu kegiatan ekonomi yang sangat esensial bagi kehidupan dan
kesejahteraan umat manusia. Sektor
ini juga merupakan sektor ekonomi yang mempengaruhi dan sangat tergantung pada
faktor lingkungan (FAO, 1991). Di wilayah Asia dan Pasifik mempunyai kurang
lebih 23% dari total luas areal dunia dan sekitar 30% dari areal dunia yang
dapat dikelola, tetapi 56% dari total penduduk dunia yang bermata pencaharian
pertanian (FAO, 1991).
Penduduk dunia terus bertambah sehingga
pertanian terus dipacu untuk memenuhi kebutuhan esensial umat manusia serta
unutk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Netherlands Conference on
Agriculture and the Environment (FAO, 1991) disebutkan bahwa lebih dari 500
juta umat manusia adalah kesulitan dalam pendapatan dan kekurangan akan bahan
makanan. Oleh karena itu, tantangan para pakar agronomi dunia termasuk
Indonesia yang utama bukanlah industrialisasi pertanian tetapi untuk jaminan
kecukupan pangan bagi umat manusia. Dengan demikian tugas kita khususnya yang
punya disiplin ilmu dan punya kepedulian di bidang pertanian adalah memberikan
pangan dan kesejahteraan bagi seluruh dunia termasuk Asia Pasifik dan
Indonesia. Tingginya permintaan sebagai hasil pertumbuhan penduduk dan
urbanisasi serta kurangnya alternatif pekerjaan di lingkungan sekitarnya
sehingga mendorong bidang pertanian untuk meningkatkan produksi dan disinyalir
telah menimbulkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan. Seperti halnya
pertanian di negara sedang berkembang yang mempunyai ciri-ciri antara lain
lahan umumnya sempit dan mulai diperhadapkan dengan degradasi sumberdaya alam.
Kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam seperti penebangan hutan, kerusakan
lahan, penyalagunaan penggunaan pestisida dan bahan kimia serta berkurangnya
keragaman genetik. Penggunaan pestisida yag cukup berat seperti insektisida,
herbisida dan fungisida adalah menyebabkan meningkatnya resistensi terhadap
hama penyakit dan mengurangi musuh-musuh alami. Pengurangan areal hutan dan
bertambahnya areal ang dapat dikelola yang diakibatkan oleh peningkatan
kebutuhan areal pertanian khususnya di tingkat petani miskin dan berlahan
sempit. Kerusakan hutan menyebabkan meningkatnya penggunaan pestisida, kadar
garam dan kehilangan plasma nutfah (sumber keragaman genetik). Petani kadang
mempunyai masalah dalam mengelola lahannya, panen dengan produksi rendah yang
membuat mereka hidup di bawah garis kemiskinan dan kurangnya ksempatan untuk
memperbaiki kualitas hidupnya. Sehingga pada saat ini maupun pada masa datang
diupayakan peningkatan produksi dengan berbagai terobosan rekayasa teknologi namun
dengan pemakaian akan bahan kimia seminimal mungkin, konservasi dan efisiensi
penggunaan lahan pertanian dalam mempertahankan keragaman biologis
(biodiversity).
Teknologi budidaya yang ditawarkan kepada
petani haruslah memenuhi minimal tiga syarat yaitu ekonomi, sosial budaya dan
ekologi. Dengan demikian menyongsong masa depan dengan konsep pertanian atau
penyediaan bahan makanan yang berkelanjutan perlu ditekankan teknologi yang
dapat menghasilkan komoditi pertanian yang menguntungkan dan tidak berbahaya
bagi lingkungan. Demikian pula dengan teknologi dimaksud akan ditransformasi di
lingkungan masyarakat tani haruslah meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan
masyarakat dan pada tahap selanjutnya pembangunan pertanian haruslah menekankan
guna terpenuhi kebutuhan sendiri, kwalitas produksi dan ekspor serta tingginya
nilai tambah yang diperoleh dari komoditi pertanian dan aman bagi lingkungan.
Untuk produksi tanaman yang
berkelanjutan antara lain dapat dicapai dengan memperkenalkan dan menerapkan
tanaman campuran, rotasi tanaman dan segala untuk perwujudan multiple cropping
pada berbagai agroekosistem ketimbang pertanian dengan sistem pertanian
monokultur. Dengan konsep pendekatan sistem Multiple cropping di samping
terwujudnya upaya peningkatan produktivitas lahan dan pendapatan, maka juga
diharapkan akan merupakan upaya tetap menjaga kelestarian sumberdaya alam dan
lingkungan. Di samping itu penggunaan legum dalam konsep dimaksud akan
meningkatkan kesuburan tanah yang pada gilirannya akan tetap menyediakan
kebutuhan unsur hara tanaman sehingga mengurangi ketergantungan pada pupuk
kimiawi.
Sumber : Materi Kuliah Multiple Cropping
thanks very much.
BalasHapusSaya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.
BalasHapusNama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.
Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.
Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.
Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut