Belajar buat video...
Rabu, 04 Desember 2013
Senin, 02 Desember 2013
Penentuan Pola Tanam Berdasarkan Curah Hujan
Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem produksi tanaman. Pola tanam ini berarti memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen agroklimat, teknik budidaya dan sosial ekonomi. Seluruh komponen tersebut dipadukan dan dimanfaatkan agar tercipta produksi. Pola tanam merupakan bagian atau subsistem budidaya tanaman, maka dari sistem budidaya ini dapat dikembangkan satu atau lebih pola tanam. Pola tanam di daerah tropis seperti Indonesia biasanya disusun sselama satu tahun dengan memperhatikan curah hujan efektif terutama pada daerah atau lahan yang sepenuhnya tergantung pada hujan. Baca selengkapnya disini...
Adaptasi Tanaman terhadap Cekaman Air
Tugas:
PENGELOLAAN AIR
(Adaptasi
Tanaman Terhadap Cekaman Air)
OLEH:
LA ODE HASANUDIN
D1B1 09044
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Air adalah salah satu
komponen fisik yang sangat vital dan dibutuhkan dalam jumlah besar untuk
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sebanyak 85-90 % dari bobot segar sel-sel
dan jaringan tanaman tinggi adalah air. Tanaman juga mengalami dehidrasi atau
cekaman air tidak hanya karena kondisi kekeringan dan salinitas tinggi, tetapi
juga karena suhu rendah (frost). Tanaman menanggapi dan beradaptasi terhadap
cekaman air untuk mempertahankan diri dari cekaman lingkungan tersebut. Cekaman
air sering menyebabkan hambatan pertumbuhan, produksi, dan bahkan menyebabkan
kematian. Agar tetap dapat hidup dalam kondisi kekurangan air, maka tanaman
harus memiliki sistem pertahanan terhadap cekaman lingkungan tersebut.
Cekaman biasanya
didefinisikan sebagai faktor eksternal yang memberikan pengaruh tidak
menguntungkan pada tumbuhan. Konsep cekaman secara sangat mudah dihubungkan
dengan konsep toleransi terhadap cekaman (stress
tolerance) yang artinya kebugaran dari tumbuhan untuk menghadapi lingkungan
yang tidak bersahabat. Apabila toleransi bertambah sebagai akibat dari pemaparan sebelum
cekaman, tumbuhan itu dikatakan teraklimasi (atau mengeras) . Aklimasi dapat
dibedakan dari adaptasi, yang biasanya mengacu pada suatu tingkat resistensi
yang ditentukan secara genetik yang diperoleh dari proses seleksi melalui banyak
generasi.
Adaptasi dan aklimasi pada cekaman lingkungan
akibat dari peristiwa terpadu yang terjadi pada semua tingkat organisasi, dari
tingkat anatomi dan morfologi ke tingkat seluler, biokimia dan molekuler.
Misalnya layunya daun sebagai respon terhadap kekurangan air mengurangi baik
kehilangan air dari daun maupun paparan terhadap arah cahaya; dengan demikian
mengurangi cekaman panas pada daun.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini yaitu :
1.
Seberapa penting Fungsi
air bagi tanaman?
2.
Bagaimana respon tanaman
ketika terjadi kekurangan dan kelebihan air?
3.
Adaptasi seperti apa
yang dilakukan tanaman ketika mengalami cekaman air?
C. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini yaitu :
1.
Mengetahui fungsi air
bagi tanaman
2.
Mengetahui dampak jika
tumbuhan kekurangan dan kelebihan air
3.
Mengetahui cara-cara
tumbuhan beradaptasi ketika mengalami cekaman air
II.
PEMBAHASAN
A.
Peran Air Bagi Tumbuhan
Air merupakan sumber kehidupan, tanpa air tidak
ada makhluk yang dapat hidup. Begitu juga tanaman, penyiraman harus dilakukan teratur agar tidak
kekurangan. Jika tidak disiram,tanaman akan mati kekeringan.
Fungsi air bagi tanaman yaitu:
1.
sebagai senyawa utama
pembentuk protoplasma
2.
sebagai senyawa pelarut bagi
masuknya mineral-mineral dari larutan tanah ke tanaman dan sebagai pelarut
mineral nutrisi yang akan diangkut dari satu bagian sel ke bagian sel yang
lainnya.
3.
sebagai media terjadinya
reaksi-reaksi metabolik.
4.
sebagai reaktan pada sejumlah
siklus asam trikarboksilat.
5.
sebagai penghasil hidrogen
pada proses fotosintesis.
6.
menjaga turgiditas sel dan
berperan sebagai tenaga mekanik dalam pembesaran sel.
7.
mengatur mekanisme gerakan
tanaman seperti membuka dan menutupnya stomata, membuka dan menutupnya bunga
serta melipatnya daun-daun tanaman tertentu.
8.
berperan dalam perpanjangan
sel.
9.
sebagai bahan metabolisme dan
produk akhir respirasi, serta.
Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Air pada Tanaman
1.
Jenis, Bentuk dan Umur Tanaman
Berdasarkan kebutuhan air, umumnya ada tiga jenis tanaman, yaitu:
a)
Jenis Suka Air, memerlukan
air yang cukup banyak untuk dapat hidup dengan baik, contohnya jenis Adiantum,
Begonia, Calathea, Dracaena, Dieffenbachia, Monstera, Peperomia serta jenis
pakis-pakisan.
b)
Jenis menyukai air dalam
jumlah sedang, memerlukan air yang cukup tapi tidak berlebih untuk tumbuh dalam
kondisi yang sehat, contohnya adalah Aglaonema, Anthurium, Philodendron, dan
lainnya
c)
Jenis menyukai sedikit air,
merupakan jenis tanaman yang dapat tumbuh dengan baik dalam keadaan sedikit
air, contohnya berbagai jenis tanaman sukulen, kaktus, Sansiviera, Chryptanthus
dan lainnya.
Bentuk daun juga harus diperhatikan, jika
daunnya besar dan tipis, berarti tanaman tidak kuat kondisi kering dan
membutuhkan relatif lebih banyak air dalam penyiraman. Jika daun ada lapisan
lilinnya berarti sedikit tahan akan kondisi kering. Daun kecil akan menghindari
penguapan air saat siang hari. Akan tetapi penting pula diketahui jenis
tanamannya, apakah tanaman menyukai air atau tidak.
2)
Lokasi dan Kondisi Sekitar
Tanaman
Lokasi
juga mempunyai peran dalam menentukan banyaknya air untuk penyiraman. Tanaman
dalam pot yang diletakkan di bawah naungan dengan yang langsung di bawah sinar
matahari akan mempunyai perbedaan kebutuhan air. Umumnya tanaman yang berada di
daerah naungan membutuhkan jumlah air yang relatif lebih sedikit dari pada
tanaman yang terkena sinar matahari langsung.
Peletakan
tanaman pada sumber air membutuhkan air yang berbeda dengan yang diletakkan di
tengah lapangan terbuka. Peletakan di dekat sumber air merupakan jenis tanaman
yang menyukai kondisi air cukup banyak untuk pertumbuhannya. Jenisnya pun
berbeda dengan tanaman yang tahan akan sinar matahari.
3)
Jenis Media Tanam
Media
merupakan material yang bersentuhan langsung dengan akar, bagian tanaman yang
sangat penting untuk penyerapan air dan unsur hara lainnya. Media tanaman yang
umum digunakan adalah tanah, humus, sekam, pasir malang, dan akar pakis.
Masing-masing mempunyai daya ikat air yang berbeda. Humus mengandung banyak
sisa-sisa bagian tanaman yang membusuk. Biasanya bersifat menahan air. Tetapi
jika diletakkan di area terbuka, humus mudah kering dan berbentuk serpihan-serpihan/butiran-butiran
halus.
Sekam
yang umumnya digunakan adalah jenis sekam biasa dan sekam bakar. Bentuknya yang
berupa butiran-butiran sekam kasar membantu tanah dalam memperbaiki struktur
tanah hingga menjadi remah-remah tidak padat sehingga air dapat mengalir dengan
lancar. Untuk itu media tanam sekam murni relatif cocok untuk tanaman hias pada
pot, atau campuran media tanam pada musim hujan agar air tidak merusak akar
yang akan mengakibatkan busuk akar.
4)
Besar Kecilnya Pot
Terkait
dengan tingkat kelembaban media dalam pot. Pot kecil akan mempunyai tingkat
kelembaban yang lebih kecil jika dibandingkan dengan media pada pot yang besar.
Tepai pot besar mempunyai kelebihan dalam pertumbuhan akar tanaman. Banyaknya
ruang yang tersedia dapat memberikan ruang yang cukup untuk bernafasnya akar.
5)
Musim
Dua
musim utama di Indonesia, musim kering dan musim hujan, akan mempengaruhi
penyiraman terhadap tanaman. Musim kering tanaman harus diperiksa apakah
memerlukan penyiraman satu-dua hari sekali sedangkan musim hujan apakah harus disiram
setiap hari atau tidak.
B.
Respon Tanaman Saat Terjadi Kekurangan dan Kelebihan Air
Ø
Respon tanaman saat
terjadi kekurangan air
Selama siklus hidup tanaman, mulai dari perkecambahan sampai panen selalu. Tidak satu
pun proses kehidupan tanaman yang dapat bebas dari air. Besarnya kebutuhan air setiap fase pertumbuhan selama siklus
hidupnya tidak sama. Hal ini berhubungan langsung dengan proses fisiologis,
morfologis dan kombinasi kedua faktor di atas dengan faktor-faktor lingkungan. Tanaman
memperoleh energi, dan sebenarnya semua bahan penyusunannya melalui
Fotosintesis. Umumnya tumbuh-tumbuhan darat mempunyai organ-organ fotosintesis
yang dianggap hanya berupa daun-daun yang terbuka terhadap udara, yang seringkali mempunyai kemampuan tinggi untuk
mengeluarkan air dari mana juga harus diambil karbondioksida. Daun juga
seringkali terbuka terhadap tingkat penyinaran tinggi, yang melalui peningkatan
suhu daun meningkatkan laju potensial kekurangan
air.
Kebanyakan air yang hilang
sebagai uap dari suatu daun menguap ke permukaan dinding epidermis bagian dalam
yang basah dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga di bawah stomata,
dan hilang ke udara melalui pori stomata (transpirasi stomata). Air juga hilang
melalui transpirasi kutikula, yang walaupun perimbangannya dapat diabaikan
terhadap transpirasi total pada tanaman yang cukup air dengan stomata terbuka,
mungkin penting pada tumbuhan yang mengalami cekaman dengan stomata tertutup,
biarpun jumlah kehilangannya sedikit.
Faktor-faktor lingkungan
yang mempengaruhi evapotranspirasi yaitu sebagai beriukut:
a)
Radiasi matahari. Dari
radiasi matahari yang diserap oleh daun, 1-5% digunakan untuk fotosintesis dan
75-85% digunakan untuk memanaskan daun dan untuk transpirasi.
b)
Temperatur.
Peningkatan temperatur meningkatkan kapasitas udara untuk menyimpan air, yang
berarti tuntutan atmosfer yang lebih besar.
c)
Kelembaban relatif. Makin besar kandungan air di udara, makin tinggi Y udara,
yang berarti tuntutan atmosfer menurun dengan meningkatnya kelembapan relatif.
d)
Angin. Transpirasi terjadi apabila
air berdifusi melalui stomata. Apabila aliran udara (angin) menghembus udara
lembab di permukaan daun, perbedaan potensial air di dalam dan tepat di luar
lubang stomata akan meningkat dan difusi bersih air dari daun juga meningkat.
Respon
tanaman terhadap kekurangan air
tersebut relatif terhadap aktifitas metaboliknya, morfologinya, tingkat
pertumbuhannya dan potensial hasil panennya. Dari banyak penyelidikan empiris
disimpulkan bahwa kekurangan air pada tahap awal ontogeni reproduktif
menyebabkan pengurangan terbesar dalam hasil. Pengaruh kekurangan air terhadap
perkecambahan dan pengadaan semai seringkali terlupakan. Kekurangan air pada
tahapan ini dapat sangat mengurangi keberhasilan pertanaman dan juga hasil
pertanaman. Walaupun demikian kekurangan air tidak perlu mengakibatkan
pengurangan hasil ekonomik. Beberapa jenis pohon (misalnya kopi) memperlihatkan
suatu periode kekurangan air untuk mendorong pembuangan, dan hasil gula dari
tanaman tebu meningkat oleh kekurangan air yang terjadi dekat sebelum
pemasakan.
Ø
Dampak terhadap tanaman saat terjadi kelebihan
air
Kelebihan
air pada tanaman biasanya terlihat /terjadi ketika awal musim hujan (akhir
musim kemarau) dan pada saat pertengahan musim hujan. Yang sangat berdampak
bagi pertumbuhan tanaman dapat di lihat sebagai berikut:
a)
Awal musim hujan (akhir
musim kemarau)
Ciri,
sinar matahari cukup banyak, suhu udara panas, kelembaban udara absolute (Ah)
tinggi, kelembaban udara relatif (Rh) tinggi, hujan masih jarang terjadi, dan
sumber air tanah maupun air permukaan sedikit. Dampak bagi tanaman yaitu proses
transpirasi (proses pendinginan) terganggu karena tingginya nilai Rh. Keadaan
ini diperparah dengan sulitnya proses pendinginan secara konduksi lewat daun,
karena bahan panas pada fase musim ini juga tinggi. Akibatnya tanaman akan
kepanasan, daun dan batang tanaman nampak layu meski masih nampak hijau. Kalau
kondisi parah ranting dan daun akan menguning dan rontok.
Kesalahan
yang sering dilakukan pada fase ini, melihat tanaman nampak layu timbul
anggapan tanaman kurang air. Padahal kelayuan muncul bukan karena kekurangan
air (seperti pada musim panas), namun akibat terganggunya proses penyerapan air
karena transpirasi terhambat. Dampak selanjutnya gampang diduga, zona akar akan
kelebihan air dan mengundang penyakit.
b)
Pertengahan musim hujan
Ciri,
sinar matahari terhalangi mendung, suhu udara turun, kelembaban udara absolute
(Ah) turun / rendah, kelembaban udara relatif (Rh) tinggi, frekwensi hujan
tinggi, dan sumber air tanah maupun air permukaan melimpah.
Dampak
bagi tanaman antara lain Kelembaban (Rh) tinggi pada suhu yang rendah merupakan
kondisi ideal pertumbuhan spora jamur. Tanaman yang tidak sehat atau bagian
tanaman yang tua menjadi rentan serangan jamur. Genangan-genangan air pada
bagian batang, bonggol, dan daun (bagian-bagian yang kaya karbohidrat) cepat
atau lambat akan diserbu jamur.
C. Cara Adaptasi Tanaman Pada Saat Kekurangan Air
Pada bagian ini kita akan mengulas beberapa
mekanisme resistensi terhadap kekeringan, yang dibagi dalam beberapa tipe.
Pertama, kita dapat membedakan antara penundaan desikasi – desiccation postponement (kemampuan untuk menjaga hidrasi jaringan)
dan toleransi desikasi –desiccation
tolerance (kemampuan berfungsi walaupun terdehidrasi), yang kadang kadang
masing masing diacu sebagai toleran kekeringan pada potensi air tinggi dan
rendah. Kedua, dalam literatur lama sering dipakai istilah penghindaran
kekeringan (drought avoidance)
–bukannya drought tolerance –
toleransi kekeringan, tetapi istilah
ini tidak tepat karena kekeringan (drought) adalah kondisi meteorologis yang
ditolerir oleh semua tumbuhan yang mampu bertahan hidup dan tidak dihindari
oleh siapapun. Ketiga , pelepasan diri dari kekeringan (drought escape) meliputi tumbuhan yang menyelesaikan siklus
hidupnya selama musim basah, sebelum musim kering mulai. Ini termasuk yang
benar benar drought avoider
(penghindar kekeringan).
Kahat air (water defisit) dapat didefinisikan
sebagai kandungan air jaringan atau sel yang berada dibawah kandungan air
tertinggi yang ditunjukkan oleh status yang paling terhidrasi. Ketika
kekurangan air terjadi cukup perlahan untuk memungkinkan perubahan dalam proses
perkembangan, cekaman air mempunyai beberapa efek terhadap pertumbuhan, satu di
antaranya adalah pembatasan perluasan daun. Luas daun adalah penting karena
fotosintesis biasanya sebanding dengan itu. Tetapi perluasan daun yang cepat
dapat merugikan ketersediaan air.
Apabila presipitasi terjadi
hanya pada musim dingin dan semi, dan musim panasnya kering, pertumbuhan awal
yang cepat dapat mengarah pada luas daun yang besar; pengurangan air yang
cepat, menyisakan terlalu sedikit kelembaman tanah untuk tumbuhan menyelesaikan
siklus hidupnya. Pada situasi yang demikian hanya tumbuhan yang mempunyai air
tersedia untuk reproduksinya di akhir musim itu atau yang menyelesaikan siklus
hidupnya dengan cepat sebelum mulai masa kekeringan (menunjukkan pelepaskan
diri dari kekeringan) akan memproduksi biji untuk generasi berikutnya. Kedua
strategi itu akan memungkinkan beberapa keberhasilan reproduksi.
Situasinya berbeda apabila
cuarh hujan musim panas cukup walaupun tidak menentu. Dalam kasus demikian,
tumbuhan dengan luas daun yang besar atau tumbuhan yang mampu mengembangkan
luas daun yang besar dengan sangat cepat, lebih sesuai untuk mengambil manfaat
musim panas yang kadang basah. Satu strategi aklimasi pada kondisi seperti ini
adalah kapasitas untuk pertumbuhan vegetatif dan berbunga dalam rentang waktu
yang panjang. Tumbuhan demikian disebut tumbuhan
– tak berbatas (indeterminate)
dalam kebiasaan tumbuhnya, berbeda dengan tumbuhan
terbatas (determinate) yang
mengembangkan jumlah daun yang telah ditentukan sebelumnya dan berbunga pada
periode yang sangat pendek.
Beberapa cara tanaman
beradaptasi terhadap kekurangan air yaitu sebagai berikut:
1.
Penurunan Luas Daun
adalah Respon Adaptasi Awal terhadap Kahat Air
Secara tipikal, ketika kandungan air dari
tumbuhan turun, selnya mengerut dan dinding sel mengendor. Penurunan
volume sel ini mengakibatkan tekanan turgor menjadi lebih rendah dan berikutnya
konsentrasi solut dalam sel. Membran plasma menjadi lebih tebal dan lebih padat
karena hanya menutup luasan yang lebih kecil daripada sebelumnya. Oleh karena
penurunan turgor adalah pengaruh biofisika paling awal yang signifikan dari
cekaman air , aktivitas yang tergantung turgor seperti perluasan daun dan
perpanjangan akar adalah paling peka terhadap kahat air.
2.
Kahat air menstimulir luruh daun
Total
luas daun dari suatu tumbuhan (jumlah daun x luas permukaan tiap daun) tidak
konstan setelah semua daun dewasa. Apabila tumbuhan menjadi tercekam air
setelah sebagian besar daun telah terbentuk, daun akan menua dan akhirnya akan
luruh. Pengaturan luas daun yang demikian ini adalah suatu perubahan jangka
panjang yang penting, yang meningkatkan kebugaran tumbuhan pada lingkungan
dengan air terbatas. Memang, banyak tumbuhan padang pasir, yang luruh daun–kekeringan (drought–deciduous), menggugurkan seluruh
daunnya pada saat kekeringan, dan bertunas kembali setelah hujan. Siklus
demikian dapat terjadi dua atau tiga kali dalam satu musim. Peluruhan daun
ketika tercekam air terutama akibat dari sintesis yang menguat dari dan tanggap
hormon endogen etilen.
3.
Kahat air Mendorong Perpanjangan Akar masuk ke tanah lembab
lebih dalam
Kekurangan air ringan
juga mempengaruhi perkembangan sistem perakaran. Rasio biomassa akar terhadap
tajuk nampak diatur oleh keseimbangan fungsional antara pengambilan air oleh
akar dan fotosintesis dari tajuk. Secara sederhana dikatakan bahwa tajuk akan tumbuh sampai sedemikian besar
sehingga pengambilan air oleh akar menjadi pembatas untuk pertumbuhan
selanjutnya; sebaliknya akar akan
tumbuh sampai permintaannya untuk hasil fotosintesis dari tajuk sama dengan
suplai. Keseimbangan fungsional ini akan bergeser apabila suplai air
menurun.
4.
Kahat Air Menambah deposisi Lilin pada
permukaan Daun
Respon perkembangan umum
terhadap cekaman air adalah produksi kutikula yang tebal yang mengurangi
kehilangan air dari epidermis ( transpirasi kutikula). Kutikula yang tebal juga
menurunkan permiabilitas CO2, tetapi fotosintesis daun tetap tidak
terpengaruh, sebab sel epidermis dibawah kutikula non-fotosintetik. Tetapi
transpirasi kutikula memberikan hanya 5-10% dari total transpirasi, dan hanya
menjadi penting apabila cekaman amat ekstrem atau kalau kutikula rusak.
5.
Kahat Air Merubah Disipasi Energi dari
Daun
Menjaga suhu daun lebih rendah daripada suhu
udara memerlukan evapotranspirasi sejumlah besar air. Inilah mengapa adaptasi
yang mendinginkan daun dengan cara selain evaporasi ( misalnya : perubahan pada
ukuran daun dan orientasi daun) amat efektif dalam menghemat air. Ketika
transpirasi menurun dan suhu daun menjadi lebih hangat daripada suhu udara,
sebagian dari energi lebih pada daun itu dilepas sebagai kehilangan panas
sensible. Banyak tumbuhan zona kering (arid) mempunyai daun kecil sekali, yang
memperkecil resistensi lapisan batas ( boundary layer) untuk transfer panas
dari daun ke udara. Oleh karena rendahnya resistensi lapisan batas, suhu daun
daun kecil cenderung tetap dekat pada suhu udara bahkan ketika transpirasi
sangat diperlambat. Sebaliknya, daun yang besar mempunyai resitensi lapisan
batas yang lebih tinggi dan melepaskan lebih sedikit energi termal (untuk
setiap satuan luas daun) dengan transfer langsung panas ke udara. Pada daun
yang besar, gerakan daun dapat memberikan proteksi tambahan melawan pemanasan
selama dalam cekaman air.
III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Seperti pembahasan diatas
dapat disimpulkan pentingnya
air serta akibat praktis dari adanya air terhadap tanah, ekosistem dan
kesuburan tanah.
Di negeri-negeri bersahara, padang pasir yang gersang dan
tandus, air mempunyai peranan yang sangat vital dan begitu didambakan dan
merupakan unsur nomor satu yang mempengaruhi kehidupan manusia dan lingkungan
di sekitarnya.
Air merupakan sumber kehidupan, tanpa air tidak
ada makhluk yang dapat hidup. Begitu juga tanaman, penyiraman harus dilakukan teratur agar tidak
kekurangan. Jika tidak disiram, tanaman akan mati kekeringan.
Dampak
kelebihan air bagi tanaman dapat dilihat sebagai berikut :
1)
Pada awal musim hujan
(akhir musim kemarau) ; Dampak bagi tanaman yaitu proses transpirasi (proses
pendinginan) terganggu karena tingginya nilai Rh (kelembaban).
2)
Pada pertengahan musim hujan ; Dampak
kelebihan air bagi tanaman antara lain Kelembaban (Rh) tinggi pada suhu yang
rendah merupakan kondisi ideal pertumbuhan spora jamur.
Respon
tanaman terhadap kekurangan air
tersebut relatif terhadap aktifitas metaboliknya, morfologinya, tingkat
pertumbuhannya dan potensial hasil panennya. Dari banyak penyelidikan empiris
disimpulkan bahwa kekurangan air pada tahap awal ontogeni reproduktif
menyebabkan pengurangan terbesar dalam hasil. Kekurangan air pada tahapan ini
dapat sangat mengurangi keberhasilan pertanaman dan juga hasil pertanaman.
Cara adaptasi tanaman pada
saat cekaman air terjadi yaitu :
1. Memperkecil
luas daun
2. Meluruhkan
daun
3. Memperpanjang
akar masuk lebih dalam ke tanah.
4. Menambah
deposisi Lilin pada permukaan Daun
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2008. Dampak cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan, hasil, dan kandungan
total prolina dan cabai. Jurnal Ilmiah Agrista 12: 19-27
Langganan:
Postingan (Atom)